Sejenak Terpukau

    Saat suasana belajar diperkuliahan mengalir tepat satu jam selepas bunyi kentong tanda waktu dzuhur menggema saya menyimak penuh penyampaian dosen prihal penerjemahan di kelas tarjemah, dosen yg bernama makki hasan tersebut membuatku sejenak terpukau untuk lebih detail menyimak kata demikata yg terdengar dari pemaparannya, berikut poin yg kami cerna:

1. Penerjemahan

    Simpelnya proses penerjemahan dari Bsu ke Bsa ada dua seni yaitu "cantik" atau "setia",
Cantik yang dimaksud adalah lihai dalam pemilihan diksi oleh sang penerjemah, artinya dalam proses menerjemahkan sebuah teks, penerjemah tidak diharuskan memilih arti bahasa sasaran yg selaras dengan arti bahasa sumber disetiap kata demi katanya namun tentang bagaimana sang penerjemah meracik dan meramu gaya bahasa sasaran agar dapat menyampaikan pesan yg terkandung dalam bahasa asal (sumber) walaupun dengan memodifikasi hasil terjemahannya dengan gaya khas sendiri namun yang terpenting dia tetap teguh agar makna dan pesannya tersampaikan dgn baik  & jelas serta tetap mempertimbangkan lawanbicaranya sebagai acuan untuk menghasilkan gaya penerjemahan yg khas, 

    Setia yg dimaksud adalah mempertahankan keserasian arti dari lafadz atau kata dalam bahasa sumber setelah diterjemahkan ke bahasa sasaran walau terkadang terjadi sedikit perubahan ungkapan pada hasil terjemahanya, yang terpenting penerjemah tetap berpacu pada makna, pesan, dan poin serta tetap mempertimbangkan lawanbicara dalam pemilihan gaya bahasa terjemahanya agar inti dan maksud bahasa sumber tersampaikan dan dapat dicerna dengan baik, simpelnya setia lebih menekankan pada keserasian & keselarasan arti kata demi katanya

2. Peribahasa

    Peribahasa atau idiom lahir dari pengalaman hidup yg kurang etis jika diterjemahkan secara lafdhiyyah (tekstual), Namun jauh lebih dalam makna dan pesanya tersampaikan jika diterjemahkan dengan mencari padanan bahasa sumber (Bsu) dalam bahasa sasarannya (Bsa). contoh: "الإبن صورة من ابيه" boleh saja diterjemahkan "anak adalah cerminan/gambaran bapaknya", namun kita perlu paham dan sadar jika diterjemahkan secara tekstual, dalam hal ini penerjemah secara tidak sengaja menghiraukan konteks budaya dan seni berbahasa, lalu apa pribahasa dalam bahasa indonesia yg tepat untuk menerjemahkan ungkapan tersebut, adapun yg perlu kita sadari terlebih dahulu adalah ungkapan tersebut muncul dalam konteks & situasi seperti apa, apakah muncul & tertuang dalam sebuah tulisan ataukah tersampaikan secara lisan disaat mutakallim memberi nasehat ke mukhatob atau dalam konteks dan kondisi lain, nah setelah semua teranalisa barulah penerjemah bisa menerjemahkanya dengan mencari padanan dalam peribahasa bahasa sasaranya, nah padanan yg cocok untuk memaknai ungkapan di atas yaitu: " buah jatuh tidak jauh dari pohonnya", adapun manfaat dari penerjemahan peribahasa bahasa sumber dengan mencari padanan peribahasa bahasa sasaran yg tepat adalah pendengar dapat merasakan batapa hidupnya ungkapan tersebut dan begitu dalamnya poin hati yang sedang disampaikan

3. Muslimah & muslimat

    Dalam bahasa arab terdapat kata مسلمة yang merujuk ke satu muslimah (satu perempuan muslim) dan مسلمات yg merujuk ke banyak muslimah (banyak perempuan muslim), namun terkadang dalam penerjemahan terkhusus dalam (penulisan) bahasa indonesia antara kata مسلمة & مسلمات orang masih terkecoh, yg sebaiknya kata مسلمة ditulis muslimah & yg مسلمات ditulis/diterjemahkan muslimat dengan menggunakan "t", sebetulnya antara h dan t adalah sebagai tanda pembeda saja antara kedua lafadz tersebut karena asalnya berbeda walau sama-sama berasal dari kata سلم

4. Penulisan hamzah

    Terakhir beliau menyampaikan, ingat dalam penulisan hamzah, penerjemah harus memperhatikan asal kata dari lafadz tersebut seperti الاختيار ditulis tanpa hamzah karena asal kata atau fiil tsulasinya adalah خير, sehingga tidak dituliskan hamzah, dan masih ada banyak contoh yg terkadang membuat orang terkecoh, atau penempatan hamzah apakah dibawah ataukah diatas itu juga perlu menyesuaikan dari mana asal kata tersebut apakah dari bahasa arab asli ataykah dari bahasa 'ajam (selain arab), maka dalam hal ini penempatan hamzahnya menyesuaikan dari mana lafadz itu berasal seperti penulisan kata indonesia yaitu الإندونيسية bukan الأندونيسية hanya saja orang arab asli dalam pelafalannya lebih condong ke posisi hamzah di atas.

Demikian sedikit pengetahuan yg bisa saya bagi, semoga bermanfaat dan mohon untuk terus saling mengingatkan jikalau ada kekeliruan dalam penulisan dan penyampaian, terimakasih.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Blending Bahasa

Maksud Terselubung di Awal Bait Alfiyah Ibnu Malik