Tren Blending Bahasa
Sebagai pribadi yang lahir di bumi pertiwi jauh lebih indah jika bahasa yang digunakan keseharian adalah bahasa nasional dan menjaga bahasa daerahnya, teguh dgn bahasa persatuan negaranya, Bertutur bahasa indonesia pada situasi perkumpulan antar suku dengan segala bahasanya (formal), namun tidak lupa pula bangga dan melestarikan bahasa daerahnya melalui perberbincangan dgn sesama suku dan etnisnya, akan lebih keren lagi jika orang asing yg berbincang denganya ia ajarkan bahasa persatuan tanah airnya bahkan bahasa suku didaerahnya sehingga merakalah yg terlebur oleh kita
Opini terkait tren penggunaan campuran bahasa asing dalam percakapan sehari-hari yang kiat merambah dikalangan pelajar bahkan non-pelajar seperti penggunaan kata "ana" sebagai ganti "saya", "antum" sebagai ganti "kamu/kalian", (namun heranya mereka tidak sekalian saja mengganti kata "dia" dengan "huwa", kata "kami" dengan "nahnu", dsb dalam percakapan kesehariannya), Opini terkait tren ini kami nilai "kurang sedap" diteruskan, namun menjadi hal wajar jika tren ini hanya sebatas trik dan akselerasi edukasi
Eits....tunggu dulu, mengenai opini ini bukan berarti kita perlu menanyakan atau menjawab #jika ada yang bertanya "lalu tren yang sedapnya bagaimana?!!, pasalnya ini bukan tentang tren yang sedapnya bagaimana namun lain hal, mengapa tren ini kurang sedap dibudidayakan karena setiap bahasa mempunyai kaidah dan tatakelola penggunaan bahasanya masing² sehingga kurang etis jika mencomot sepatah dua patah kata lalu di blander dengan bahasa indonesia, akhirnya orang yg paham bahasa (walaupun sedikit) atau yg tidak paham sekalipun merasa geli bahkan aneh saat mendengarnya, Itulah opini terkait hal ini namun lain hal jika dilirik dari sudut pandang yang berbeda, krn setiap kepala pasti ada cerita
Adapun contoh penggunaan campuran bahasa indonesia dan bahasa arab/inggris:
"Ana kurang paham apa yang antum jelaskan",
"Ana dan antum saja mungkin yang paham",
"You mau kemana hari ini", "why gk sih" dsb.
Demikian sampel singkat yang terjadi baik bahasa arab maupun bahasa inggris yang sering diaduk dengan bahasa indonesia, namun bukan berarti pengguna bahasa seperti contoh diatas kita putuskan tidak bangga dengan bahasa indonesia, penyebabnya mungkin karena faktor lain, menurut kak vega dalam tiktoknya ia mencampur adukkan bahasa karena memang ia tidak tau istilah yg pas dan sesuai dgn apa yg ia maksud dalam bahasa indonesianya sebagai contoh: "iya ini ketrigger" dia mengungkapkan dekmikian dlm pembicaraannya karena ia tidak tau apa istilah trigger dalam bahasa indonesianya khususnya dipercakapan yg identik dgn kespontanan, maka sebenarnya ini PR kita untuk menjaga dan mencari padanan kata serta mengadopsi bahasa daerah u/ menjadi bahasa indonesia yg disepakati bukan mengadopsi dari bahasa asing, namun tidak mengapa jika memang blm terdapat istilah dalam bahasa daerah untuk bisa diadopsi seperti yang biasa terjadi di dunia akademik (banyak kata dan istilah yang diserap dari bahasa asing), pada sisi lain jika diperhatikan mengapa kegiatan mencampuradukkan bahasa terjadi, maka diperoleh beberapa kemungkinan setelah kami analisa:
1. Pengguna bahasa spt contoh diatas mungkin sedang mengkaji dan mendalami bahasa terkait, sehingga ia perlu memumarasah (melatih) melalui kegiatan mencampuradukkan bahasa indonesia dgn bahasa asing agar bahasa ke-2 yg ia kaji kiat meningkat.
2. Pengguna bahasa kemungkinan melakukan hal itu sebagai bentuk penghormatan atas lawan bicaranya, sehingga ia menggunakan kata "antum" sebagai ganti kata "kalian" karena lebih ringan didengar dari pada "kalian" yang berat di telinga jika lawan bicaranya lebih sepuh atau berilmu darinya, spt contoh seorang murid sedang berbincang dengan guru dan berkata "Kalian/kamu saja yang mengajar di musholla ini", sungguh berat ditelinga bukan jika seorang murid menggunakan pilihan diksi ini untuk paggilan kepada guru.
3. Kemungkinan lainnya dikarenakan istilah dalam bahasa indonesia masih amat sedikit untuk diterapkan dalam berbagai situasi, sehingga agak berat ditelinga ketika hanya mengandalkan kata "kalian" sebagai bentuk panggilan kepada yg lebih tua/berilmu, seperti contoh seorang anak sedang berbincang dengan seorang kakek dan berkata "kek kamu/kalian aja yang berjalan duluan", gmn kurang etis didengar bukan jika seorang anak memilih diksi tsb sebagai panggilan kpd kakek, dgn demikian sg anak mengganti kata kalian dgn diksi jenengan
4. Pengguna bahasa bukan orang jawa namun lawan bicaranya orang jawa yg lebih tua atau sebaliknya sehingga blm terbiasa mengucapkan kata "jenengan" / "anda" sebagai ganti "kalian" kepada lawan bicaranya, dengan demikian ia gunakan kata "antum" sebagai ganti "kalian" karena mungkin menurutnya lebih ringan di lidah dari pada menggunakan diksi "jenengan", atau jika ia mengungkapkan padanan dari kata jenengan dalam bahasa daerahnya kemungkinan besar lawan bicaranya tdk paham atau bahkan terjadi kesalah pahaman sehingga ia memilih "antum" sebagai jalan tengah dan yg sdh familiar, kemudian sebab musabbab lainnya mungkin masih banyak lagi.
Aneh dan geli memang wajar dirasakan karena masih belum beradaptasi dengan kegiatan mencampuradukan bahasa, dan sebagai hal yang wajar pula ketika mencampur adukkan bahasa pertama dan bahasa ke-2 sebagai wujud trik edukasi namun yang di khawatirkan dan disayangkan hal itu menjamur dan mengabaikan bahasa lokal secara tak sadar yang pada hakikatnya sangat kaya jika dijadikan bahan adopsi untuk istilah yg belum terdapat dalam bahasa indonesia, maka sebaiknya pembiasaan bahasa daerah sebagai ganti dari istilah yg blm terdapat di bahasa nasional hingga dikemudian hari secara resmi menjadi bahasa indonesia
Sejujurnya bahasa indonesia akan banyak istilah jika masyarakatnya berlomba u/ mengadopsi bahasa daerah menjadi bahasa persatuan terutama pada bahasa tulisan, sebagai contoh:
- kata "jenengan" yg diadopsi dari bahasa jawa sebagai ganti kata "kalian/kamu" untuk penyebutan yang lebih tua karena kurang etis jika "kalian" digunakan untuk penyebutan yg lebih tua
- kata "uni" yang diadopsi dari bahasa minang sebagai ganti penyebutan kakak perempuan
- kata "akang" yang diadopsi dari bahasa sunda sebagai ganti penyebutan kakak laki-laki, Dan masih banyak lagi istilah penyebutan dalam bahasa daerah yang berkaitan dengan situasi tertentu yang belum teradopsi ke bahasa indonesia, sayangnya ungkapan diatas blm berlaku didunia tulisan, namun tdk menutup kemungkinan digunakan dimasa depan.
#Ibrohnya
Jika bahasa indonesia sudah menghandle banyak istilah penyebutan maka bahasa indonesia akan sangat ringkas dan padat contoh: "Uni saya lagi sakit" ini jauh lebih ringkas dibanding menggunakan "kakak perempuan saya lagi sakit" bahkan dalam dunia tulisan jika hal ini terjadi maka yg awalnya 300 halaman bisa menjadi 250 halaman
'Ala kulli hal semoga tren ini tidak menjadi illah (sebab) merosotnya bahasa daerah dan diharapkan tren ini menjadi langkah jitu sebagai amalan dari petuah:
"اذا كانت اللغة في الفاظنا لكانت الدنيا على قبضتنا"
Ketika bahasa sudah nyantol di lisan niscaya seakan dunia ada digenggaman, "sebagai trik menahlukkan dunia", petuah lain mengatakan "utamakan bahasa indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.
wallahu 'alam...
Komentar
Posting Komentar