Maksud Terselubung di Awal Bait Alfiyah Ibnu Malik

    Ketika membaca "Syarah Ibnu Aqil 'ala Alfiyah Ibnu Malik" kami menemukan sebuah nadhom yang mengandung filosofis dalam penyusunanya, jika dibaca diamati dan dipahami, hal ini mungkin dapat memberikan manfaat dan mutu kepada seluruh penggiat ilmu, untuk itu kami menguraikanya. Ya, tepat berada pada bait pertama Alfiyah ibnu malik yang berbunyi "قال محمد هو ابن مالك" "Qola Muhammadun huwa ibnu Maliki", ternyata eh ternyata ada sebuah filosofi makna, dan tujuan yang termuat dalam penyusunannya.

    Sebelum berlanjut perlu kita fokuskan dan pahami terlebih dahulu pola kalimat nadhom berikut untuk menyatukan persepsi: "..... محمد هو ابن مالك"  *  "احمد.....", dalam jumlah (kalimat) tersebut terdapat kajian fokus yaitu:

-Pertama: kata "محمد" kedudukannya sebagai man'ut (yang disifati) untuk kata "ابن مالك"

-kedua: isim dhomir (هو) kedudukannya sebagai mubtada yg tentunya mengandung 'amil ma'nawi ibtida

-Ketiga: kata "ابن مالك" (bentuknya idhofah) yg pada hakikatnya berkedudukan sebagai na'at (sifat) dari kata "محمد" namun dalam hai ini terpisah oleh dhomir "هو" ('amil ibtida) sehingga kata "ابن مالك" dapat pula berkedudukan sebagai khobar dari mubtada yg berupa "هو".

    Ok, kemudian perlu dipastikan kembali bahwa kita sudah paham betul mustholahat (istilah² nahwu) dalam pembahasan ini untuk kelancaran pemahaman.

Baik, kita lanjut  yah... pertanyaannya!!!

    Kok na'at bisa terpisah dari man'utnya sih, bukannya nyambung yah?. Yaps, peryataannyamu gk salah.

    Nah, adapun asalnya, hal yang demikian (merubah status kata ابن مالك yg tadinya na'at dari lafadz محمد agar menjadi khobar dari dhomir هو) / (mengatakan lafadz ابن مالك dan man'utnya yaitu kata محمد terpisah oleh dhomir هو [yg berupa 'amil ibtida'] ) hanya dilakukan tanpa menjadikan (menaruh) na'at baru baik hakiki maupun sababi sekalipun setelah dhomir ketika ma'nutnya ma'lum (yg diketahui/jelas/sudah tidak menimbulkan pertanyaan), karena pada hakikatnya jumlah setelah ma'rifat adalah hal, sedangkan jumlah setelah nakirah ialah sifat. 

Namun jika kita menghendakinya spt contoh di bawah:

"قال "محمد muhammadnya menjadi man'ut (yang disifati)

"هو ابن مالك" menjadi na'at dari muhammad (yg mensifati)

Maka boleh, namun yg perlu digarisbawahi adalah dengan membacanya secara menyeluruh tanpa berhenti saat pengi'raban. contoh: "qoola muhammadun" "huwa ibnu maliki", lain dengan mengucapkannya "qoola muhammadun" "huwa" "ibnu maliki" maka akan mempengaruhi kedudukan kata tersebut.

    Juga seperti halnya, ketika kita menghukumi (memberikan status atau kedudukan pada kata) bahwa "naat itu terpisah dari man'utnya dalam hal pengi'raban itu dilakukan dengan melihat sudut pandang pengucap/pembicara atau dalam hal ini penulis jumlah (kalimat) tersebut, apakah tujuan dia itu demikian ataukan lain sehingga kemudian kita dapat menghukuminya sesuai kaidah nahwiyyah, seperti yang terjadi pada nadhom diatas yaitu kata "محمد", walaupun secara lafad itu sudah ma'rifat namun masih timbul pertanyaan, muhammad yg mana, oh ternyata muhammad anak dari imam malik ath- tha'i al- jayyani sehingga lafaz ابن مالك yg hakikat sebelumnya menjadi naat dari lafaz محمد، berhubung posisinya dipisah oleh dhomir sehinga lafadz ابن مالك bisa juga menjadi khobar dari mubtada yg berupa dhomir "هو" tersebut.

Ok rileks dan kembali ke TKP.

    Nah seperti yang dipaparkan sebelumnya bahwa pemisahan naat dan man'ut itu juga dilakukan dengan melihat sudut pandang penulis, artinya "oleh sebab apa penulis melakukan pemisahan antara naat dan man'utnya dgn dhomir"?  Atau "atas dasar apa penulis tidak memisahkan antara keduanya?, tapi bukan berarti kita wajib langsung menanyakan kepada penulisnya lansung melainkan sebaiknya pasalnya bagaimana jika penulisnya telah wafat hehe, maka cukupolah kita mumulahadhoh (menganalisa dan mengamati). 

Maka adapun jawabannya adalah: 

Apabila disebutkannya naat itu dengan tujuan memuji/mencela si man'ut maka penulis wajib membuang 'amil tersebut (dhomir هو yg memisahkan antara keduannya). Spt contoh: "قال محمد ابن مالك" tidak menyebutkan هو karena bertujuan untuk memuji org yg bernama muhammad namun lain ketika disebutkan seperti contoh: "قال محمد هو ابن مالك" maka makna yg terselubung dari penyebutan dhomir adalah tidak lain sebagai lil- bayan (penjelas mumammad yg mana sih) oh ternyata muhammad anak imam malik itu loh. adapun boleh juga nih jika memang tujuan penulis itu hanya lil-bayan (penjelas man'ut) saja maka boleh menyebutkan (meletakkan) dhomir (yg berkedudukan mubtada) atau boleh meniadakannya diantara na'at dan man'utnya, Jadi wajib hukumnya si nadhim membuang هو jika penyebutan naatnya bertujuan memuji atau mencela.

    Contoh: قال محمد ابن مالك berati si nadhim (penyusun) kalau tidak bertujuan memuji pasti mencela, Namun lain jika tujuannya hanya lil-bayan (penjelas) maka si nadhim boleh menyebut isim dhomir atau meniadakannya, Contoh: قال محمد ابن مالك/قال محمد هو ابن مالك, Maka sudah tidak menjadi masalah dalam menyisipkan dhomir (pemisah) diantara naat dan man'utnya. nah tujuan diuraikannya ini adalah tidak lain untuk mengulik makna dan maksud dibalik susunan kalimat atau tujuan dari penyusunan kalimat. 

    Dan yang terakhir sebagai tambahan saja, jumlah atau kalimat "هو ابن مالك" pada konteks ini merupakan jumlah yang tidak memiliki mahal (tempat) baik rafa, nasob, jer maupun jazm. artinya jumlah tersebut tidak menempati tempat i'rab karena jumlah tersebut adalah jumlah mu'taridhoh yaitu jumlah yang baru datang/terselip alias (kalimat sisipan) diantara qoul (قال) dan maqul (yg diucap) berupa (احمد ربي الله خير مالك) oleh sebab lain seperti datang guna penjelas sebuah kalimat, spt contoh dibawah "رضي الله عنه" menjadi penjelas dengan maksud lain (yaitu doa) setelah mengucapkan kalimat "...قال ابي هريرة".

wallahu a'lam bisshowab"





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tren Blending Bahasa

Sejenak Terpukau